Entri Populer

Selasa, 31 Januari 2012

kamboja

Bunga Kamboja Tak Sekedar Bunga Kuburan



Kamboja Bunga (diambil dengan Kamera Casio Exilim EX-Z75)
Kamboja Bunga (diambil dengan Kamera Casio Exilim EX-Z75)
Bunga Kamboja Tak Sekedar Bunga Kuburan
Kemboja atau yang lebih dikenal dengan kamboja atau semboja merupakan sekelompok tumbuhan dalam marga Plumeria. Pohon dan bunga ini lebih sering dijumpai di pekuburan / pemakaman sehingga sering disebut dengan pohon kuburan atau bunga kuburan. Kamboja memiliki bentuk pohon biasa seperti pohon pada umumnya dengan daun jarang namun tebal. Bunganya yang harum sangat khas, dengan mahkota berwarna putih hingga merah keunguan, biasanya lima helai. Mengenai kenapa jumlah mahkota bunganya berjumlah lima ini tidak kutemukan penjelasan ilmiahnya. Meskipun umumnya bunga kamboja berjumlah mahkota 5 helai, bukan berarti tidak mungkin jika kurang atau lebih dari 5 helai. Bunga dengan empat atau enam helai mahkota oleh masyarakat tertentu dianggap memiliki kekuatan gaib. Begitulah sebagian manusia, sedikit-sedikit dianggap memiliki kekuatan atau tuah.
Meskipun sering disebut dengan bunga kamboja, bunga ini tidak memiliki keterkaitan dengan negara Kamboja. Sebetulnya, nama sebutan bunga ini adalah kemboja (pakai huruf ‘e’). Namun entah mengapa masyarakat lebih familiar dengan kamboja (pakai huruf ‘a’). Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tengah. Disebut dengan nama latin plumeria karena nama Plumeria diberikan untuk menghormati Charles Plumier (1646-1706), pakar botani asal Perancis.
Aku seringkali menyimpan pertanyaan-pertanyaan ‘bodoh’ jika ada informasi tentang asal sebuah tumbuhan. Dalam kasus ini, bagaimana caranya sebuah pohon yang berasal dari Amerika Tengah bisa bermigrasi ke Indonesia. Hehehehe. Apa benar bunga / pohon itu berasal dari Amerika atau karena alasan penemunya menemukannya di Amerika lalu dikatakan berasal dari Amerika saja. Hanya Allah yang Tahu. :D
Kamboja atau Plumeria Sp. tergolong tanaman yang dapat mencapai usia ratusan tahun seperti halnya kaktus raksasa. Tanaman ini merupakan jenissuculent, yakni tumbuhan yang dapat menyimpan air pada seluruh bagian tubuhnya, dari akar, batang, daun, bunga, sampai buah.
Kamboja memiliki beberapa keluarga dekat, yakni Pachypodium, Adenium(Kamboja Jepang), dan Mandevila. Tapi meski satu keluarga, bentuk dan warna bunganya berbeda. Keunggulan dari tanaman tropis yang satu ini adalah berbunga sepanjang tahun, ”tahan banting”, dan mudah beradaptasi dengan berbagai iklim. Di Indonesia, kamboja tumbuh di dataran-dataran rendah sampai ketinggian 700 m dpl dan memiliki segudang nama, di antaranya Kamboja doka, Cempaka mulia, Karassi, Nojha, dan sebagainya.
Jenis kamboja yang sedang bertengger di puncak kepopuleran saat ini adalah Kamboja Jepang atau adenium. Varietas ini pertama kali ditemukan di Aden, Yaman, tapi ironisnya, sekarang nyaris tak ada lagi adenium di sana. Sebaliknya, ia dengan mudah bisa kita temukan di negara-negara pengembang Adenium seperti Jepang, Thailand, dan Taiwan.
Seperti kamboja-kamboja lainnya, kini adenium tak hanya berwarna polos merah atau putih, melainkan sudah berkembang jadi silangan antarspesies dengan variasi warna dan motif yang sangat cantik. Karenanya, tak mengherankan bila jenis ini sangat ”laku” sebagai bunga parsel. Bentuk artistik dan ketahanan hidupnya yang tinggi jadi alasan utama.
Meskipun dikenal secara umum sebagai pohon kuburan, namun hal itu tak berlaku di Bali. Di Bali bunga kamboja ditanam seperti orang menanam bunga mawar, dan bunga lainnya. Dimana-mana ada pohon kamboja, dengan berbagai macam jenis, ada yang berwarna putih, merah dan kuning. Di Bali kemboja ditanam di hampir setiap pura serta sudut kampung, dan memiliki fungsi penting dalam kebudayaan setempat.
Seiring dengan bertambahnya peminat, harganya pun kian melesat. Oleh karena itu, tak perlu heran bila ada kamboja dengan tinggi 2-3 meter (siap tanam) berharga Rp 1-1,5 juta, sementara yang tingginya baru 1-2 meter bernilai Rp 200-300 ribu.
Khasiat tanaman
Selain dikenal sebagai pohon kuburan dan kini mulai juga dikenal sebagai pohon bunga hias, kemboja ternyata juga memiliki beberapa khasiat sebagai obat. Batangnya mengandung getah putih yang mengandung damar, sejenis karet, senyawa triterpenoid amytin dan lupeol. Tetapi, hati-hati, kulit batang kamboja mengandung senyawa plumeirid, yakni senyawa glikosida yang bersifat racun.
Karena bersifat racun dan bisa mematikan kuman, getah kamboja dengan dosis yang tepat berguna sebagai obat sakit gigi atau obat luka, sedangkan kulit batangnya sangat efektif untuk menumpas rasa sakit karena bengkak dan dan pecah-pecah pada telapak kaki. Orang di kampungku dulu sering menggunakan getah kemboja ini untuk obat tersebut.
Untuk menghilangkan rasa sakit pada gigi berlubang. Ambillah beberapa tetes getah kamboja dengan menggunakan kapas, kemudian letakkan si kapas di gigi yang sakit. Hati-hati, jangan sampai mengenai gigi yang tidak sakit. Dosisnya 1-2 kali sehari. Namun, pengobatan dengan getah ini hanya bersifat sementara saja, dan tak bisa menyembuhkan secara tuntas.
Kemboja juga bisa untuk obat frambusia. Ambillah kulit batang kamboja sebanyak 3 telapak tangan, kemudian dicuci dan dipotong-potong. Rebus dengan air bersih sebanyak kira-kira 3 liter sampai mendidih, selama 15 menit. Tunggu sampai hangat atau suam-suam kuku. Selanjutnya, manfaatkan air rebusan ini untuk mandi atau berendam.
Sering disebut sebagai bunga kuburan, tanaman kamboja mulai naik kelas. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman yang bunganya bernilai tinggi. Permintaan dari luar negeri cukup banyak. Tapi, belum banyak yang membudidayakannya.

Para penyuka tanaman tentu tidak asing dengan bunga kamboja. Bunga yang biasa disebut plumeira, kadang juga dijuluki frangipani, ini memiliki ciri khas: bunga berwarna putih dan di tengahnya ada warna kuning. Meski masih sekeluarga dengan bunga kamboja jepang atau adenium, perbedaannya terletak pada ukuran bunga yang lebih besar.

Di Pulau Jawa, pohon kamboja, khususnya kamboja berbunga putih (Plumeira alba), masih dipandang sebelah mata. Sebab, kebanyakan tanaman ini tumbuh di kuburan. Tidak jarang, orang menyebutnya sebagai bunga kuburan.

Tapi, siapa sangka, tanaman asal daratan Amerika Tengah ini ternyata tidak sekadar menyimpan keindahan dan keharuman. Bunganya yang telah dikeringkan, lantas ditumbuk halus, banyak dipakai sebagai bahan baku wewangian, kosmetik, industri kerajinan dupa, spa, serta teh herbal.

Bunga kamboja juga dipercaya memiliki banyak khasiat penyembuhan. Misalnya, meredakan demam, menghentikan batuk, melancarkan air seni, menghentikan mencret karena disentri, mencegah pingsan karena hawa panas, dan menghilangkan sembelit.

Jangan heran, beberapa pembeli dari luar negeri mencari bunga kamboja kering ini. “Sejak beberapa tahun belakangan ini, permintaan dari negara lain cukup banyak,” kata Amin Widia, Direktur CV Sinar Surya, pengusaha bunga kamboja kering di Surabaya, Jawa Timur.

Beberapa pembeli berasal dari China, Taiwan, dan Korea Selatan. Tapi, pembeli dari China biasanya paling getol mencari bunga kamboja ini. Kabarnya, masyarakat China sangat menggemari racikan bunga kamboja asal Indonesia lantaran kandungan airnya kurang dari 10%. “Negara Kamboja sebenarnya juga mengekspor ke China, tapi orang China lebih suka barang dari Indonesia,” kata Amin.

Sekarang ini, pengiriman kamboja kering Indonesia ke China bisa mencapai 20 ton–30 ton per bulan. Bahkan, sering permintaannya lebih dari itu. Negara Tirai Bambu diperkirakan membutuhkan hingga ratusan ton bunga kamboja kering per bulan. Itu baru belum termasuk kebutuhan di Taiwan, dan Korea Selatan.

Permintaan yang tinggi itu membuat harga bunga kamboja kering terus melambung. Saat ini, tiap kilogram (kg) kamboja kering dihargai Rp 25.000–
Rp 35.000. Para pengepul dan petani umumnya mendapat margin keuntungan 10%–15%. “Sekarang ini harga sedang bagus-bagusnya,” ujar Hendri Sunandar, petani bunga kamboja di Pasuruan, Jawa Timur.


Budidaya masih minim

Ironisnya, di saat permintaan dan harga sedang bagus, pengusaha tidak bisa memenuhi kebutuhan. Sebab, sebagian besar masih mengandalkan jasa pengepul. Sementara, pengepul juga mendapat pasokan dari petani-petani di wilayah di Mojokerto, Probolinggo, Pasuruan, Bangil, Malang, dan Bali.

Alhasil, ketika petani tidak bisa memanen bunga kamboja akibat hujan mengguyur sepanjang tahun, pasokan menjadi seret. “Sekarang, saya tidak mendapat pasokan lantaran stok bunga di petani sudah habis. Tanaman sedang tidak berbunga,” ujar Eka Mahardika, pengepul di Gianyar, Bali.

Pasokan yang tidak pasti ini mengakibatkan sebagian permintaan dari Taiwan dan Korea Selatan tidak bisa dipenuhi. “Akhirnya, kerjasama sama dengan pembeli di luar negeri hanya terjadi kalau ada barang, tidak berani menjanjikan ada barang,” sambung Amin.

Repotnya, belum banyak orang yang membudidayakan kamboja ini untuk keperluan ekspor. Padahal, “Penanaman kamboja sangat mudah, tinggal ditanam batangnya langsung bisa hidup,” tutur Hendri.

Hendri mengaku, sejak tahun lalu telah membudidayakan sekitar 5.000 pohon kamboja di lahan seluas dua hektare di Pandaan, Jawa Timur. Untuk budidaya ini, ia menggandeng masyarakat di sekitar Pandaan sebagai pemilik lahan. Ia memasok pohon kamboja berukuran dua meter buat ditanam. “Sistemnya, untung dari penjualan dibagi fifty-fifty,” katanya.

Hanya, tingkat keberhasilan budidaya ini tidak bisa dipastikan. Tahun ini, misalnya, harapan untuk memanen gagal total. Sebab, hampir sebagian besar tanaman kamboja di Pandaan dimakan rayap. Setelah dievaluasi, penyebabnya adalah sistem tanam tidak memperhatikan jarak antar-tanaman. “Namanya saja masih baru pertama kali. Sekarang saya sudah tahu, bagaimana cara terbaik menanam,” terang Hendri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar